“Perempuan itu Ga Harus Cantik”

Dimana-mana yang namanya anak perempuan dari sononya pasti pengennya cantik. Walaupun dia masih anak bawang. Ga semua terlahir cantik molek. Parahnya devinisi cantik di Indonesia entah kapan mulainya sudah di doktrin, haruslah putih mulus, langsing, wajah bak pualam, lalat nempel aja kepleset. 

Ga heran yang namanya krim pemutih laris manis, semua kalangan status sosial memasukkan krim pemutih dalam daftar belanja yang hampir wajib. Yang pastinya pilihan merk produk sesuai kemampuan kantong masing-masing.

Saat saya mulai jadi siswa putih biru, saya sudah sadar penampilan dan ingin terlihat cantik. Sempat juga protes saat itu ke ibu saya, “kenapa saya hitam sih?!” sementara bapak saya dan saudara-saudaranya berkulit putih. Adik ibu saya satu-satunya berkulit putih juga, ibu saya saja yang berkulit gelap. 

Tante yang perawat lalu menyarankan saya untuk mengkonsumsi temu giring setiap hari. Trus demi nama ingin putih, saya tahan-tahanin tuh minum temu giring setiap hari, walaupun puahitnya ngga ketulungan. 

Allah menyelamatkan saya dari si temu giring yang pahit. Bersyukur ya saya gila baca, jadi pas nemu artikel kalau pigmen warna kulit kita bisa dirubah dengan rutin mengkonsumsi vitamin C. Trus lihat juga tante Oki Asokawati yang setiap pagi mengawali hari-hari nya dengan mengkonsumsi sejumlah suplemen. 

Wah… Bapak saya itu rajin banget beliin kami anak-anaknya suplemen dari kami kecil. Hanya saya paling males tuh minumnya kalau ngga dijejelin. Trus gegara tante Oki dan artikel vitamin C itu saya jadi kerajingan minum suplemen saat saya di kelas satu smp hingga detik ini tidak pernah absen seharipun. 

Dulu sih waktu masih gadis rajin juga luluran, sampai nih kulit jadi sensitif ga bisa kena panas dan di suhu ruangan, jadi pruntusan merah-merah perih gitu. Sembuhnya ya, berhenti luluran sampai sekarang. 

Devinisi cantik itu melulu fisik, akhirnya berubah total saat saya menemukan artikel di majalah Femina saat saya masih di kelas satu smp juga. “Perempuan itu ngga harus cantik, tapi harus menarik. Untuk bisa jadi menarik, ya harus berwawasan luas, enak diajak bicara dan diskusi apa saja. Berkepribadian, perhatian, sikap dan tutur kata yang harus dijaga. Dan tambahan bagi saya pribadi,” harus punya rasa kasih dan hati yang seluas samudra” 

Semenjak itulah saya yang hari-hari hanya melahap novel Mira W, Marga T, Lima sekawan dan hampir semua karya Enyd Bliton, Tin Tin dan masih banyak lagi buku-buku yang hanya sekedar hiburan, berubah bacaan berat dan lebih bermutu menurut kacamata saya pada saat itu. Saya jadi rebutan Intisari dan Sinar Harapan dengan bapak. 

Walaupun pada awalnya bikin kepala saya pusing dan mual-mual. Tapi akhirnya bikin saya kecanduan. Saya mulai membaca novel kembali baru lima tahun belakangan ini, itupun karena saya berniat ingin menulis novel. Tidak ada yang lebih efektif untuk belajar menulis, selain banyak-banyak membaca terutama membaca karya yang sama. Mau nulis novel ya banyak-banyak baca novel lah. 

Nah… Masih ingin Cantik?! Kalau saya lebih pilih jadi “Wanita Elegan yang Menarik” karena kecantikan akan memudar seiring waktu bertambahnya usia. Semua perempuan pasti cantiklah diusia mudanya, wong kulit masih seger kinyis-kinyis, tubuh masih langsing. Tapi sedikit sekali yang masih tampak menarik di usia matangnya, terutama diatas usia empat puluh tahun. Sekarang ngga perlu lagi takut saat memasuki usia empat puluh tahun, lima puluh tahun, bahkan enam puluh tahun. Karena dikehidupan nyata, saya memiliki teman yang usianya enam puluh tahun, dan masih menarik, sehat dan energik. 

Toleransi Hijab

Ceritanya nih, hari itu menghadiri seminar buat ibu-ibu pengusaha muslim di Aston. Rasanya saat itu saya tidak menemukan teman yang tidak berhijab selain saya. Sekarang saya mah sudah sedikit tebal telinga lah untuk masalah yang satu ini. 

Nah, pas lagi nunggu teman yang lain datang, saya dan ketiga teman yang sudah hadir duluan menunggu di lobby hotel. Beneran ga sengaja juga saya duduk di sofa yang disebelah sisinya sudah ditempati seorang bapak. Begitu nyadar, langsung deh jiwa bisnis saya terusik.

Saya kasih deh tuh si bapak brosur jualan saya. Trus ngobrol ringan, sekaligus cerita-cerita kasih info mengenai jualan saya. Berhubung teman saya Jasmine sudah memanggil agar kami naik ke lantai lima dimana seminar diadakan, ya saya mengakhiri presentasi saya dan menyalami si bapak. 

Itu awal mula cerita ini. Ternyata si Jasmine beberapa hari kemudian, habis-habisan menasehati saya! Ealaaahhh… Segitunya sih!!! 

“Mba, kenapa sih harus berbisnis dengan laki-laki?! Ibu-ibu kan masih ada! Perempuan dilarang berbicara dengan pria dan berlemah lembut, apalah lagi menatap dan bersalaman!” 

“Loh aku kan jualan Jasmine?! Halal, ga ada niatan merayu! Suaraku memang seperti itu, tidak dibuat-buat lebay seperti Roro Fitria! Mosok aku menawarkan sesuatu pakai cara dan suara preman?! Bersalaman juga hanya bagian dari etiket. Ga ada niatan  bergenit-genit!”

Hhhhhh… Saya menghela nafas panjang, lelah hati tingkat dewa untuk urusan yang seperti ini. Jasmine adalah sahabat terbaik saya, sangat baik, selalu ada disaat saya kesulitan. Bahkan bersama dia saya pernah merintis usaha hingga keluar daerah hampir duapuluh tahun yang lalu, berbasah-basah kehujanan, dari pagi hingga malam. Kemanapun bersama. Melanjutkan kuliah bersama. Saya mengajar, Jasmine pun ikutan mengajar yang masih dia tekuni hingga kini, sementara saya sudah lama alih profesi. Saya menekuni tulis-menulis sebagai wujud dari obsesi putih biru yang harus terwujud, Jasmine pun ikutan berburu seminar-seminar penulis. Dan akhirnya dia yang benar-benar bisa mewujudkan mimpi saya untuk punya rumah baca. 

Jasmine pun kini bermetamorfosis menjadi seorang muslimah yang berhijab, dan dia berseberangan dengan saya dalam hal ini. Jasmine juga sebenarnya sudah sangat ingin menutup wajahnya dengan cadar dan tidak lagi mau bersalaman, hanya suaminya masih sangat keberatan. Sepertinya nih menurut pandangan saya, suami Jasmine tidak menganut aliran yang sama denganya. 

Karena pernah di saat Idul Fitri, ibu saya saat mau bersalaman dengan suaminya Jasmine bertanya terlebih dahulu, apakah dia mau bersalaman?! Dan jawaban bang Di, “dia tidak masalah bersalaman dengan siapapun”

Duh, seperti apapun pilihan Jasmine, dia adalah sahabat terbaik saya, dia adik bagi saya. Saya walaupun sangat tidak sepaham dengan Jasmine, tapi begitu menghormati pilihannya, hingga saya memilih untuk diam jika dia mulai dengan segala dakwahnya. Dia tahu saya, dia tahu saya berusaha menjadi muslimah yang baik, walau jauh dari sempurna, terutama penolakan saya jika ada yang mati-matian mendakwahi saya soal hijab! 

Entah mengapa, beberapakali saya hendak mulai berhijab, tapi kembali mentah jika sudah ada mulut yang usil memaksa saya berhijab dan segala nasehat-nasehatnya. Entahlah, saya ga suka aja, “Ga suka dengan Caranya!” 

Walaupun saya tahu hijab itu kewajiban tanpa alasan apapun satu paket lengkap. Dan mereka yang berhijab adalah wanita yang jauh lebih baiklah menurut saya dalam hal berpakaian. Walaupun banyak juga sih oknum wanita berhijab yang bermaksiat. Dan ada juga sih, yang berhijab dan bercadar yang jadi merasa exclusive dan merasa ahli surga banget gitu. 

Yang pasti sih, bagi saya urusan amal ibadah adalah urusan masing-masing individu dengan Allah. Yang ga berhijab belum tentu murahan dan ahli maksiat. Bagaimana menurut anda? Apapun pendapat kita, saling menghargai dan menghormati tanpa harus berdebat merasa paling benar. Bukankah kita lebih baik mendoakan kebaikan daripada menasehati yang akhirnya melukai perasaan orang?! Mendoakan saudaranya tanpa yang didoakan tahu, adalah suatu kemuliaan. Menyakiti perasaan bukankah bagian dari kezoliman?! 

My Mom Yang Aneh!

Sudah dua minggu ini mommy punya kebiasaan baru, yang aneh deh menurut aku! 

Habis mandi masih basah-basah dia sudah pakai lotion. Biasanya sih dia ga gitu! Masalahnya aku ga suka kalau gegara itu lantai kamar jadi basah! Trus aku juga kecipratan air! 

Ih…!!! 

Mommy bakalan tertawa-tawa kalau aku ngibrit! 

Ngga lucu banget kan!!! 

Hal baru lainnya, mommy juga jadi tambah rajin semprot-semprot wajahnya. Udah ga pakai alat nano-nano apaan gitu yang cerita mommy ke aku beli dengan onti Santi, waktu aku belum turun dari surga. Bukan juga pakai eske tu yang sering mommy bawa-bawa. Dia pakai botol kecil bekas parfum yang dicucinya trus dimasukin air oxy sama krim dan serum yang baru dia bawa entah darimana?! “Itulah dua benda biang kerok keanehan mommy dua minggu ini!” 

Trus mommy bakalan nge-shake tuh botol, sambil mutar-mutar bergaya seperti balerina gitu! Sebentar-sebentar ditatapnya lekat-lekat tuh botol, lalu nge-shake lagi. 

“Apaan sih?! Aneh!!!”

Banyak banget lagi mommy buat ramuan itu! 

Ada tiga botol!

Botol bening, sering dibawa-bawa mommy pergi juga, trus buat semprot-semprot wajahnya tuh! 

Botol kuning, botol yang paling cantik dan aku suka, mommy pakai buat semprot-semprot seluruh badannya, terutama perut yang aku suka lihat dia pakai berulang-ulang.

Yang terakhir nih botol putih susu, yang panjang dan kokoh sepertinya aku lihat ditambah mommy dengan ramuan rambut deh, itu buat rambut dia yang ubannya kalau lagi iseng sering dicabutin. 

Aku benci ya dengan kebiasaan baru mommy ini yang bikin aku resek! 

Nah kalau dia lagi terapi tuh, dia bakalan seprot aku juga! Sesuai botol apalah yang dia pegang. 

Seringnya sih botol buat wajah! 

Mommy bilang, “Biar kamu tambah guanteng Hun!”

Crooootttt… 

Sukses dah wajah aku basah! Trus aku ngibrit saat air mendarat di wajah aku yang imut dan inoncent ini! 

Tahu kan reaksi mommy?! Bakalan ngakak bahagia banget! 

“Sumpah!!! Ga Lucu Mom!!!”

Kalau aku lagi leha-leha di lantai kamar sambil nungguin mommy, mataku selalu awas menjeling ke arah mommy, bukan antusias ngeliatin aktifitas dia yang aneh! 

Siaga aja! 

Lah kalau dia pegang botol buat badan atau rambut, bisa dibayangkan aku dikekepin trus crot crot crot basah semua dah badan ku! Hiks… 

Lu pikir aja teman, badan dan wajah aku kan bulu semua, lah kalau lagi nyemprot rambut, basah semua dah nih bulu. Kalau nyemprot badan basah juga. 

Ih… Nasib dah!!!
Makanya kalau aku lihat mommy pegang botol ramuannya, aku langsung ngacirrrr…

Tragedi Berdarah

Akhirnya mommy pulang juga, tapi sudah hampir tengah malam. Mommy mengeluarkan aku dari kandang dan menggendong aku. Memasak air panas, lalu menuangkan ke dalam baskom mandiku. Mommy menyikat-nyikat kuku tanganku, aku diam saja.

Aku sudah tak berdaya menahan sakit. Saat mommy menyikat kuku kaki kananku, barulah mommy melihat luka itu.

“Luka kena apa ini Hun? Siapa yang menggigit Hun?!”

Aku hanya bisa membalas tatapan mata mommy dengan sendu. Tarjo yang melakukannya mommy!
Aku hanya excited dan ingin bermain dengan anak-anak Tarjo. Tapi Tarjo yang sangat membenci aku dari awal kedatanganku, langsung menancapkan kuku tangannya dan menggigit kakiku. Aku tak berdaya, usiaku tidaklah terpaut jauh dari usia anaknya. Untung saat itu mas Api melihat dan menyelamatkan aku dari maut. Mas Api yang jago taekwondo reflek mengeluarkan tendangan mautnya.

Ritual menyikat kuku langsung mommy hentikan, dan membersihkan luka serta meneteskan propolis. Akupun terlelap dalam pelukan mommy.

Esoknya, aku tetap bergelung tidur di pembaringan mommy, aku tidak bangun-bangun. Aku tidur seharian.
Mommy selalu di sisiku, sesekali mommy mengelus dan membujuk untuk makan. Aku tetap bergelung tak bergerak, aku demam. Mommy pastinya ngga paham apa yang terjadi padaku, aku maklum, momom pribadi ga pernah piara kucing.

Sudah dua hari aku ngga makan, hanya tidur dan ngga bangun-bangun. Akhirnya mommy dengan nada khawatir menyuapi aku dengan kuning telur ayam kampung. Esok nya, badanku sedikit bugar, aku sudah bisa bangun. Tapi lukaku walaupun sudah diobati semakin bernyenyeh dan mengeluarkan bau tidak sedap.

Sudah satu minggu aku sakit, setiap hari mommy menyuapi kuning telur mentah. Mommy ngga jijik menggendong aku, walaupun aku bau. Aku tetap tidur di pembaringan momom. Eyang aja selalu mengusir aku kalau aku mendekat. Trus mommy beli obat untuk lukaku, om Dony yang kasih tahu. Satu hari aja Alhamdulillah lukaku langsung mengering.

Setelah kondisiku semakin membaik, momom mendatangkan dokter untukku. Aku di imunisasi untuk yang pertamakalinya. Aku juga punya kartu imunisasi yang cantik dari om dokter.

“Aku Hun”

Halooo…
Namaku Hun!
Aku seekor kucing campuran, “Persia dan Kampung”
Ibuku juga campuran kampung dan Persia. Sementara romo ku adalah asli Persia.
Bulu ku tidak sepanjang mereka yang Persia asli, tapi lebih panjang dari yang kucing asli Indonesia alias kucing kampung.
Warnaku putih dan kuning.

Pemilik asli ku tidak lagi menginginkan aku. Lalu aku diberikan kepada Bima teman sepermainan tuan ku.
Hiks… Sedih karena aku di paksa terpisah dari ibu, sementara aku masih sesekali menyusu dan masih ingin bermanja-manja dengan ibu.

Mas Bima membawa aku pulang ke rumah eyangnya. Rumah tua yang besar dan halaman yang luas, letaknya di jalan yang sibuk di tengah kota. Aku ingat sekali hari itu tanggal sembilan belas Agustus duaribu delapan belas. Saat itu usiaku kurang lebih dua bulan setengah atau tiga bulan gitu!

Aku di gendong mas Bima ditangan kirinya, tangan kanan mas Bima memegang kardus indomie. Aku dan mas Bima diboncengin motor teman mas Bima, saat akan menuju ke rumah eyang dimana mas Bima tinggal, rumah yang akan jadi rumah tinggalku yang baru.

Di ruang tengah rumah eyang, aku pertamakali melihat mommy. Aku masih diposisi yang sama, ditangan kiri mas Bima, tangan kanan mas Bima masih menggenggam kardus.

Aku menatap mommy dengan mata melebar dan berbinar cerah, aku bukan hanya tersenyum tapi bibirku lebih sumringah.
Waktu itu sih mommy diam aja ngga menyapa aku, dia hanya bicara dengan mas Bima, trus masuk kamar deh.

Mas Bima menyiapkan kandang besi bekas kandang apaan aku juga ga tahu. Trus itu jadi kandang aku deh sampai sekarang.
Yang mas Bima letakan di dekat dapur didepan pintu gudang antara kulkas eyang dan kulkas mommy. Sebenarnya aku takut mendengar dengungan kulkas. Trus aku kedinginan tidur sendiri. Aku rindu ibu… hiks… hiks…
Tapi kan aku anak laki-laki yang kuat dan pemberani!
“Begitu pesan ibu kepada aku saat aku akan dipisahkan dari ibu”

“Aku Kuat! Aku Hebat! Aku Pemberani!”
Makanya aku berusaha tetap ceria dan bahagia di rumah baruku.
Aku bermain sendiri, berlari-larian kesana kemari, wilayah jelajah aku dari ruang tamu eyang sampai dapur. Aku harus menyibukan diri supaya aku tidak ingat ibu, aku rindu ibu.

Sebenarnya eyang punya kucing betina, namanya Avatar. Avatar baru punya dua anak usia hampir dua bulan. Aku senang, punya teman bermain. Aku sering mencoba mengajak bermain  anak-anak Avatar dan  mendekati Avatar, tapi dia sangat tidak suka aku. Dia akan mulai mengeram, sebelum marahnya meledak, aku ngacir sejauh mungkin.

Entah kenapa, mommy memanggil Avatar, “Tarjo!” kalaupun ada panggilan halus ya… “Jojo!”

Setelah tiga hari aku di rumah eyang, aku dengar mommy berbicara dengan mas Bima.
Mommy meminta tolong mas Bima membelikan sesuatu, biasa sih, mommy kalau perlu apa dan malas keluar, ya mas Bima deh jadi andalan dunia usaha!

Saat mas Bima pulang, dia menenteng karung kecil yang sebelah sisinya berwarna biru dan ada gambarnya, juga baskom besar persegi panjang warna biru berserta sendok besar terbuat dari plastik yang bolong-bolong. Ternyata aku baru tahu itu namanya Liter box tempat untuk aku poop, sendok itu ya untuk mengambil poop aku. Dan isi karung adalah pasir khusus buat aku poop.

Terimakasih mommy, itu rupanya meminta mas Bima membelikan sesuatu. Kemarin mommy juga membelikan aku makanan kucing di supermarket. Tapi aku ngga suka. Aku lebih suka makanan yang fresh, bukan olahan, lebih seger dan sehat dong alasannya.

Semenjak itu mommy mengadopsi aku. Mommy lah yang mengurusi aku, walaupun aku masih berstatus resmi milik mas Bima. Mommy memberiku kalung dengan dua bandul krincingan berwarna pink dan hijau yang besar. Eyang selalu memprotes mommy kalung itu memberatkanku!
Ah… ngga kok! Aku suka!

Mommy memberiku nama “Hun” dari panggilan sayang honey kepadaku.
Aku bisa tidur nyenyak dan hangat, karena sekarang aku tidur di kamar bersama mommy dan mas Api. Aku menjarah selimut mas Api yg lembuuuuttt… sekali. Semenjak itu selimut itu diberikan mas Api buat aku.

Mommy khusus merebus ikan yang hanya diberi jahe untuk aku makan, tentu saja mommy menyisakan buat Tarjo. Sesekali mommy pergi untuk keperluan pekerjaan. Aku sedih dong…
Kalau ada mommy aku sepanjang hari bermain dengan mommy. Jika mommy sibuk kerja, aku tetap dibawanya ke kamar menemani. Mommy duduk di depan meja kerjanya, sementara aku sibuk berlarian kesana kemari menjelajahi kamar. Mengacak-acak tumpukan baju di rak-rak. Menggondol apa saja yang aku suka dan melempar-lemparkannya. Mommy ngga pernah marah, dia diam saja, jika dia sedang istirahat dari pekerjaannya, dia akan mengelus-elus aku dan tertawa bersama aku.

Hari itu, mommy pergi, mommy selalu memberitahu aku kalau dia ada urusan atau pekerjaan di luar rumah sehari sebelumnya. Pagi-pagi… sekali mommy sudah pergi, belum jam enam pagi kalau tidak salah. Mommy seperti biasa, pamit sebelum pergi, bicara sebentar denganku, minta aku doain, gedong aku, peluk dan cium aku, trus aku dimasukin kandang.
Aku ngga nyangka hari itu terjadi peristiwa yang aku ngga bisa lupakan, aku sedih… aku ketakutan dan sakit… Tapi mommy ngga pulang-pulang…

Transaksi Narkoba Hingga Koteka

Saat facial saya biasa menggunakan alkohol 70% untuk mensterilkan permukaan kulit. Kalau di kota dimana domisili tetap saya, alkohol 70% bisa dibeli bebas dimanapun. 

Menjadi sulit saya dapatkan saat saya menetap sementara di Jayapura. Masak iya sih, alkohol sebotol kecil yang harganya hanya belasan ribu, harus ditebus dengan resep dokter?! Mahalan biaya dokternya kali… 

Sudahlah hanya bisa dibeli di apotik, harus dengan resep dokter lagi! Duh, capek deh!!! Saya harus keliling apotik pada saat itu, setengah memohon untuk bisa membeli alkohol tanpa resep dokter. 

Beruntung di satu apotik dibelakang Gelael mau menolong saya, itupun penawarannya pakai acara bisik-bisik. Hmm bisik-bisik tetangga kan jadinya. Habis di sekeliling saya memang ada tetangga yang juga punya kepentingan di apotik itu. 

Saya diajak masuk kedalam ruang peracikan obat. Serasa mau beli narkoba aja deh saat itu. Emang pembeli lain ngga ada yang boleh tahu kalau saya membeli alkohol 70% tanpa resep dokter. Penasaran kan kenapa sebegitunya, hanya buat beli alkohol 70% yang di kota lain di Indonesia bagian barat di jual bahkan di warung kelontong kecil. 

Berbekal wajah saya yang katanya mirip Manado, makanya petugas di apotik bersedia meluluskan permohonan saya membeli tanpa resep dokter. Btw… saya sebenarnya ngga terlalu suka dikira Manado saat di Jayapura. Karena Manado disana, maaf, indentik dengan wanita panggilan kelas atas, huffft. 

Trus kenapa sih sulit sekali membeli alkohol 70% ini?! Karena disana alkohol ini juga dipakai buat minum oleh mereka yang hobby minum. Parah banget kan?! 

Di kota asal saya, suku aslinya juga punya kebiasaan minum teh sore hari yang diganti dengan tuak, cap cuan, arak dan saudara-saudaranya. Tapi selama ini, saya belum pernah mendapati mereka yang mabuk mengganggu masyarakat sekitarnya. Beda sekali pengalaman saya di Jayapura. Saya beberapakali di kejar orang mabuk saat sedang beraktifitas di jalan. 

Senja hari itu basah sehabis hujan deras. Saya berjalan kaki menuju tempat tinggal sepulang kerja. Baru saja melewati simpang di belakang Matahari Mall, ada seorang pria berpenampilan kumuh, mengejar saya dengan kecepatan penuh, sambil merentangkan tangan, dan mengoceh, “Sayang, pulang juga dirimu. Aku rindu sekali!!!”

Saya kontan ketakutan, tripot di tangan punya tugas tambahan selain menopang kamera, fungsinya juga untuk menghajar siapapun saat saya sedang bertugas di jalan atau saat harus pulang telat. 

Kali lainnya, saya dan teman wanita dari dok lima dalam perjalanan menuju ke Gelael dengan menumpang angkot, naas nasib kami, ternyata supirnya dalam keadaan mabok. Mobil melaju tak terkendali, si supir juga memeras kami, meminta sejumlah besar uang, jika tidak, dia akan membawa kami berputar-putar dengan kecepatan tinggi. 

Saya dan Anggi sepakat untuk terjun dari angkot saat sudah dekat pos polisi di dok 2. Dan kami pun meloncat, sambil berteriak minta tolong. Om polisi langsung beraksi menolong kami. Dan supir pemabuk itu kabur entah kemana?! 

Kejadian terakhir di kejar orang mabuk saat saya belanja di pasar Hamadi, sebelum pulang ke kampung halaman untuk membeli sepuluh buah “Koteka” pesanan teman-teman. Banyak amat ya beli koteka nya?! Kan buat ganti-ganti?! Namanya juga untuk dipakai. 

Goresan Hati Seorang Bapak

“Daddy” Betapa indahnya panggilan sayang itu terdengar ditelinga saya. Sebagai seorang pria dewasa, panggilan yang terucap dari mulut mungil seorang anak adalah sebuah pengakuan bahwa saya adalah seorang bapak.

Betapa rindunya hati ini akan panggilan itu. Bayi mungil buah cinta yang jadi pelengkap dan pembahagia rumah tangga kami. Hari-hari setelah kehadirannya semakin berwarna, seindah pelangi setelah hujan.

Lelah akan rutinitas harian, terbayar saat menatap wajahmu nak. Daddy rindu ingin cepat pulang ke rumah menghabiskan waktu melihat pertumbuhanmu. Tetap semangat saat engkau merengek haus ditengah malam, menyerahkanmu untuk menyusu pada mommy, walaupun kantuk tak bisa ditahan.

Cepatlah tumbuh besar nak. Tak sabar rasanya menanti. Kita main bersama, menemani daddy kemanapun daddy pergi. Menjelajah buminya Allah kita bertiga. Bertamu ke rumah Allah setiap tahunnya, engkau, daddy dan mommy.

Langkah kaki pertamamu membuncahkan kebahagiaan di hati pria yang sudah tak muda ini.

“Dada…”

“Apa nak?!” Panggilan pertamamu yang mampu membuat mata ini berkaca-kaca.

Setelah dirimu bisa berjalan, daddy akan membawamu sholat ke mesjid. Bangga rasanya menggandeng tangan mungilmu, berjalan beriringan memasuki mesjid.

Mengajarimu ayat-ayat Al-Quran, menunggumu setoran hapalan Al-Quran setiap malam. Membacakan buku sebelum tidur, mengelus punggung kecilmu, agar engkau merasa nyaman dan nyenyak tidurnya.

Biar daddy yang mengantar di hari pertama sekolah, juga menjemputmu. Apapun keperluanmu daddy yang akan meluangkan waktu untuk mengantar.

Teriakan bahagia dan hentakan kaki-kaki kecil dengan tangan terbuka, menghambur kepelukan setiap saya pulang dari manapun, menorehkan kenangan kerinduan hati.

Anakku…

Kita akan segera berjumpa. Tumbuh besar, sehat sempurna di rahim mommy ya nak. Jadi anak sholeh.

Titip rindu untukmu, dari pria yang sudah tidak lagi muda ini.

Tetes bening tak lagi terbendung, menahan kerinduan akanmu.

Aiko

Aiko, nama Jepangnya sangat pas tercermin di fisik dan raut wajahnya yang cantik dan imut. Kulitnya bening hingga pembuluh darahnya terlihat nyata.

Aiko tidak mewarisi darah Jepang sedikitpun. Didalam tubuhnya mengalir darah Jawa dari bapak dan Dayak dari pihak ibu. Tapi Aiko selalu mengatakan jika dia Dayak. Masab yang diwariskan bapaknya tak pernah ada dalam kamus hidupnya.

Aiko kecil, tumbuh besar hingga dewasa hanya berdua dengan ibu, ada adik laki-laki yang kemudian diambil dari saudara kandung ibunya, saat Aiko di sekolah menengah tingkat pertama.

Cerita hidup Aiko adalah kisah pilu bagi ibu yang melahirkan dan membesarkannya. Sebagai anak tunggal, dia tidak pernah bermanja-manja.

Ibu Aiko adalah perempuan lugu, yang berniat mengadu nasib ke kota propinsi, bekerja apapun asalkan halal. Saat itu usianya masih belasan tahun. Maka bekerjalah si ibu disebuah kantin yang letaknya tidak jauh dari Kodam.

Sudah pasti langganan kantin didominasi oleh om-om TNI yang berdinas disana. Seperti halnya Aiko, ibu yang masih remaja, kecantikannya sangat menonjol diantara teman-temannya yang bekerja disitu. Menjadikannya sang primadona.

Sayang keluguan si ibu menjadi bumerang yang disesali seumur hidupnya. Si ibu terpesona oleh janji manis seorang anggota TNI, yang mengumbar janji dan cerita palsu akan status pernikahannya. Hingga menikahlah mereka dibawah tangan. Si ibu buta akan hukum.

Lahirlah Aiko sebagai kebahagiaan pelipur lara bagi si ibu. Suaminya datang berkunjung hanya untuk menyelesaikan kepentingannya saja sebagai laki-laki. Nafkah yang diberikan jauh dari kata cukup, itupun sering kali tak pernah ada, sama halnya kehadiran si bapak yang banyak sekali absen melewati masa-masa pertumbuhan Aiko. Hingga saat Aiko berusia duabelas tahun, baru duduk di kelas satu sekolah menengah tingkat pertama, si bapak tak pernah lagi berkunjung.

Ibunya adalah wanita tangguh, yang menanggung pilu hati sambil membesarkan buah cintanya sendirian. Saat itu si ibu mendapatkan pekerjaan sebagai tukang masak di Kantor Perumahan dan mendapatkan sebuah kamar dibelakang kantor, hingga mereka tidaklah perlu mengeluarkan dana untuk sewa rumah.

Setamat sekolah menengah tingkat atas, kontrak kerja si ibu berakhir. Bersyukur Allah memberi kemudahan mendapatkan pekerjaan kembali di warung makan kecil yang baru saja dirintis. Malaikat utusan Allah yang akhirnya kelak menjadi suami bagi Aiko, mengontrakan rumah kecil sederhana di pinggiran kota.

Keberuntungan selalu bersahabat erat dengan Aiko, dia diterima kuliah di fakultas Hukum Universitas Negeri terbaik di kotanya, dan mendapatkan beasiswa penuh hingga selesai.

Kisah cinta Aiko dengan suami pun berawal di kampus ini. Bang Didi saat itu sudah menjadi asisten dosen, dan mengajar matakuliah yang Aiko ambil. Cinta mereka dirajut sedikit demi sedikit diatas perjuangan yang tidak mudah.

Waktu berlalu, Aiko sudah menamatkan kuliahnya. Bang Didi sudah menjadi dosen dan meneruskan kuliahnya ke jenjang strata dua di Universitas Gajah Mada. Saya mengantarkan Aiko ke Bandara saat dia hendak berangkat ke Jogjakarta hendak menghadiri wisuda calon suaminya. Haru bahagia hati saya sebagai sahabat karibnya.

Beberapa waktu setelah mereka kembali. Mereka menikah. Sekali lagi Aiko dihadapkan pada kenangan masa lalu yang terpaksa mengoyak kembali jiwanya.

Aiko dan bang Didi, sebelum pernikahan dilaksanakan, berusaha mencari dimana keberadaan bapak kandung Aiko. Setelah mereka menemukannya, bukan berarti permasalahan selesai.

Mereka kesulitan bertemu dengan si bapak yang sudah sangat sepuh dan terbaring karena sakit. Anak-anak bapak dari istri syah tidak memberikan ijin bertemu, jangankan bersedia menjadi wali bagi pernikahan Aiko. Berkali-kali Aiko dan bang Didi berkunjung, selalu pulang dengan kesedihan mendalam di hati Aiko.

“Bahkan di hari bahagianya pun, bapak tak pernah ada baginya?!” isak Aiko dipelukan saya saat itu. Kesempatan terakhir juga buat bapak untuk maaf yang selama puluhan tahun mengabaikan Aiko dan ibunya, sebelum berpulang ke Rahmatullah tak pernah dimanfaatkan bapak.

Hari bahagia pernikahan Aiko tetap dilaksanakan di Mesjid terbesar, tanpa hadir seorang bapak. Aiko dan ibu diboyong pindah ke rumah yang dibeli bang Didi. Rumah yang saat itu masih sederhana, rumah type 21 di komplek yang letaknya masih terpencil.

Dua tahun sudah mereka menikah. Belum ada tanda-tanda akan hadirnya buah hati. Aiko mengisi waktunya bersama saya, memulai bisnis dan kuliah kembali di dua tempat. Bang Didi juga kembali kuliah strata 3 di Kualalumpur.

Aiko mencurahkan isi hatinya kepada saya, diteras kampus magister managemen di sore hari yang kelabu, “Aku sudah siap dan ikhlas mba, bila bang Didi menikah lagi. Aku belum bisa memberikan keturunan buat abang”

Saya tahu, tidak mudah bagi Aiko mengambil keputusan. Setelah sore itu, saya lama tidak berjumpa Aiko. Kami disibukan dengan kepadatan kuliah masing-masing yang sudah di akhir. Apalagi saya juga harus kejar setoran mencari nafkah.

Hingga suatu malam pelantikan bupati di wilayah pemekaran baru, saya berjumpa dengan bang Didi. Ini memang kampung halaman bang Didi, bang Didi bukan hanya dosen tapi juga sebagai seseorang yang punya peranan penting di pemerintahan daerah.

Kabar bahagia saya dapatkan, “Aiko tidak lama lagi akan melahirkan anak pertamanya”

Ternyata, dua tahun sebelum kelahiran Akmal, Aiko dan bang Didi sudah mengangkat seorang anak laki-laki sedari lahir, yang diberi nama Muhammad.

Ibu Aiko tetap tinggal bersama keluarga kecilnya. Sesekali waktu, si ibu pulang kampung saat waktunya menanam padi. Aiko dua tahun yang lalu dengan tabungannya, membawa ibu untuk berkunjung ke rumah Allah untuk melaksanakan ibadah umroh.

Mereka Alhamdulillah berbahagia. Walau kehidupan rumah tangga tak selalu indah dan mudah di jalani. Tapi dengan ketaqwaan mereka menjalaninya. Aiko dan bang Didi, menjadi pribadi yang semakin amazing bagi saya akan keimanan dan kesolehannya. Anak-anak mereka tumbuh sehat, cerdas, sholeh dan menjadi penghapal Al-Quran.

Tikus Kamar Si Kutu Buku

Sebelum saya benar-benar pandai membaca, saya sudah berlangganan majalah Bobo, maksud saya, bapak almarhum yang membayari, saya kan masih kecil, belum punya penghasilan dong! 

Senang, walaupun belum mengerti apa cerita disetiap lembar halamannya, cukuplah melihat-melihat gambarnya yang seru dan berwarna-warni, sambil berfantasi mengarang sendiri cerita yang saya lihat.

Setelah saya pandai membaca, saya menjadi tergila-gila membaca, bukan lagi majalah Bobo, tapi sudah merambah ke buku cerita, Tintin, Smurf, Viking, novel anak-anak buah karya Enid Blyton dan Alfred Hitchcock.

Sisi negatifnya, saya tidak akan beranjak dari tempat tidur jika bacaan saya belum kelar ludes terbaca. Biasanya sih, diatas tempat tidur bukan hanya satu bacaan, juga mengantri teman-temannya minta segera dibaca. Hingga bapak menjuluki saya tikus kamar, karena saya akan keluar kamar hanya untuk mandi, sekolah, mengaji dan makan, urusan makan bisa dibawa kedalam kamar.

Beranjak remaja, sebagai pengakuan diri, saat mulai memasuki sekolah menengah tingkat pertama, saya mulai membaca majalah-majalah remaja, majalah wanita muda Femina hingga majalah wanita milik ibu saya Kartini, novel karya Mira W dan Marga T yang jadi favorit, juga karya-karya Harlequin.

Di kelas dua sekolah menengah tingkat pertama, saya mulai membaca bacaan-bacaan berat, seperti Sinar Harapan, Intisari, Tempo, efek dari sebuah artikel yang saya baca di majalah Femina, “Perempuan tidak harus cantik, tapi harus atau wajib menarik. Menarik yang dimaksud ini adalah, siapapun yang berdekatan dengannya akan merasa nyaman, saat diajak ngobrol dan membahas apapun pasti nyambung.”

Karena cantik fisik bisa disulap dalam semalam, semantara isi kepala akan butuh lama untuk membentuknya. Begitu deh kira-kira saat itu definisi saya.

Saat di sekolah menengah tingkat pertama itulah saya mulai punya keinginan untuk bisa menulis. Sayang hingga saat ini pun saya tidak juga menjadi profesional dalam hal menulis. Itu satu hal yang tidak patut ditiru oleh siapapun.

Dalam edisi Malory Towers karya Enid Blyton, saya sangat terkesan dengan setting cerita sekolah berasrama. Saking berkesannya, sampai ingin merasakannya hingga saat ini.

Sepertinya asik gemana gitu. Sekolah asrama buat anak-anak perempuan yang terletak di tepi pantai, dengan tower di empat sisinya, khas sekolah anak-anak the have di Inggris sono.

Berbagai jenis buku saya lahap habis, paling disuka sih ensiklopedia dan Biografi. Tapi yang  jadi favorite  dan the best ya Komik Doraemon, yang masih jadi kesayangan hingga saat ini.

Setelah novel Laskar Pelangi booming, ada beberapa karya novel inspirasi dari penulis lain yang juga oke, yang jadi bacaan wajib bagi saya. 

Saat ingin belajar menulis novel, saya kembali melirik novel yang sudah saya tinggalkan semenjak sekolah menengah tingkat atas untuk menjadi bacaan wajib saya. Saya memilih Harlequin dan buah karya Asmanadia salah satu suhu saya dalam bidang menulis.

Melahirkan satu mahakarya yang bernama novel itu tidaklah semudah yang dibayangkan. Jika seorang penulis seperti Asmanadia, Andrea Hirata, Ahmad Fuadi dan lain-lain bisa terus menghasilkan karya-karya yang bagus, mereka adalah orang-orang terbaik di bidangnya.

Untuk bisa menulis sangat berkaitan erat dengan kebiasaan membaca. Dengan sendirinya kita akan terbiasa merangkai setiap kalimat dengan baik dan benar, lebih terstruktur. Itupun dengan catatan apakah bacaan kita selama ini berkualitas?! Karena akan sangat mempengaruhi karakter tulisan kita pada akhirnya.

MALAIKAT DI SIANG HARI

Tadi siang saya terburu-buru masuk mesjid kecil disamping diklat langganan saya, sholat dhuhur berjamaah sudah dimulai. Tempat sholat wanita lengang tidak ada ibu-ibu yang ikut sholat disitu, tumben sekali fikir saya.

Tapi saat pandangan mata saya tertuju ke sayap kanan, ada seorang anak kecil sekitar usia enam atau tujuh tahun, tinggi dan besar tubuhnya sedang, mengenakan jilbab syar’i berwarna hijau, lagi berdiri khusuk di sisi kanan paling pojok.

Duh, saya merasa berdosa, saat menghampirinya dengan tidak percaya, menjenguk dan menatap wajahnya lekat-lekat, apa nih anak memang sedang sholat?! Karena saya harus merapatkan saf, jika dia sholat.

Biasanyakan tidak pernah ada anak sekecil itu yang bisa benar-benar khusuk, bahkan saat saya menatapnya, dia tidak terpengaruh sedikitpun.

Sempat sedikit ngga khusuk juga di rakaat terakhir, memikirkan si anak disebelah, saya ingin mengenalnya. Berhubung saya tertinggal satu rakaat, itu artinya disaat jamaah salam, saya masih harus mengganti ketertinggalan saya. Saya berdoa-doa semoga si anak itu tidak segera meninggalkan mesjid.

Doa saya diijabah Allah, anak itu mundur kebelakang untuk berdoa. Dan disaat saya salam menutup sholat saya, dia masih disitu. Rautnya manis, polos. Pakaiannya bersih dan rapih.

Dita namanya, dia tinggal masih diwilayah sekitaran mesjid walau terhitung masih berjarak beberapa kilo.

Dita bersama ayahnya sholat di mesjid itu. Menurutnya, ibunya membawa seluruh pakaiannya untuk pergi ke Jakarta. Entahlah untuk keperluan bekerja atau apa?! Saya tidak bertanya lebih lanjut. Karena saya harus melanjutkan wirid saya.

Disaat saya selesai, saya bergegas mencari sosok Dita disetiap sudut parkir yang tidak seberapa luas. Dita sudah menghilang, padahal jarak saya keluar mesjid dan dia tidak lah seberapa lama. Sedih.

Rasa penasaran saya tak terpenuhi, saya ingin melihat sosok pria yang beruntung mempunyai seorang anak yang sholeha sedari kecil. Semua itu tidak terlepas dari si orang tua yang menghadirkannya ke dunia ini dengan doa-doa dan mendidiknya dengan baik.

Betapa saya ingin memeluknya, berharap anak-anak saya, menantu n cucu-cucu saya kelak juga seperti itu. Motivasi bagi saya sebagai seorang ibu.

Semoga Allah masih memberikan saya kesempatan besok, lusa, atau entah kapan bertemu kembali dengan Dita. Dan semoga Dita si malaikat kecil, tetap terjaga ke sholehannya hingga dewasa kelak, Amin.

Ya, Dita seperti Malaikat bagi saya, tiba-tiba dipertemukan dengan saya di rumah Allah, hanya saya dan dia disitu, dan dia pergi begitu saja, meninggalkan jejak di hati saya.